Tersebut dalam satu riwayat ...
Suatu hari Nabi Sulaiman alaihissalam bertanya kepada seekor semut, "Wahai semut! Berapa banyak engkau perolehi rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun?" "Sebesar biji gandum", jawab si semut.
Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya dalam sebuah botol. Setelah genap satu tahun, Sulaiman membuka botol untuk melihat nasib si semut. Namun, didapatinya si semut hanya memakan sebagian saja dari biji gandum itu.
"Mengapa engkau hanya memakan sebahagian dan tidak menghabiskannya?" tanya Nabi Sulaiman. "Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada Allah", jawab si semut. "Dengan tawakal kepada-Nya aku yakin bahwa Dia tidak akan melupakanku. Ketika aku berpasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah engkau akan ingat kepadaku pada tahun berikutnya sehingga boleh memperoleh sebiji gandum lagi atau engkau akan lupa kepadaku. Kerana itu, aku harus tinggalkan sebahagian untuk bekal tahun berikutnya."
Saya petik dari:
http://www.rumahdongeng.com/cerita-anak.php?id=408
Rabu, 24 Mei 2017
Selasa, 23 Mei 2017
Kisah #21 Kucing yang difitnah
Ketika memiliki uang cukup banyak, Nasrudin membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah. Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di sini."
Ketika malam itu Nasrudin pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya. Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal duri-durinya saja.
"Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?"
Istrinya menjawab, "Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!"
Nasrudin pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya. Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras menyindir,
"Ikanku tadi dua kilo beratnya. Kucing yang baru aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo, mana ikannya? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya?"
Ketika malam itu Nasrudin pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya. Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal duri-durinya saja.
"Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?"
Istrinya menjawab, "Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!"
Nasrudin pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya. Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras menyindir,
"Ikanku tadi dua kilo beratnya. Kucing yang baru aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo, mana ikannya? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya?"
Kisah #20 Harganya kebenaran
Seperti biasanya, Nasrudin memberikan ceramah di mimbar. "Kebenaran," ujarnya "adalah sesuatu yang berharga. Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki harga material."
Seorang murid bertanya, "Mengapa kita harus membayar untuk sebuah kebenaran ? Kadang-kadang mahal pula ?"
"Kalau engkau perhatikan," sahut Nasrudin, "Harga sesuatu itu dipengaruhi juga oleh kelangkaannya. Makin langka sesuatu itu, makin mahal-lah ia."
Kisah #19 Setelah melirik gadis cantik
Anas bin Malik radiyallahu anhu (ra) menceritakan:
Aku menuju rumah Utsman (ra). Di tengah jalan ada seorang wanita berjalan di sebelahku. Aku hanya melirik dan membayangkan kecantikannya. Ketika aku sampai di rumah Utsman, sungguh mengherankan, Utsman berkata kepadaku,
"Seseorang di antara kamu menghadapku dan bekas zinanya tampak di alis kedua matanya. Apakah kamu tidak mengerti bahwa zinanya kedua mata adalah memandang. Hendaklah kamu benar-benar bertaubat atau aku menghukummu."
Anas bin Malik bertanya, "Apakah ada wahyu setelah Nabi?"
Utsman (ra) menjawab, "Tidak ada, tetapi aku melihat dengan mata qolbuku, tanda bukti dan firasat yang benar."
Aku menuju rumah Utsman (ra). Di tengah jalan ada seorang wanita berjalan di sebelahku. Aku hanya melirik dan membayangkan kecantikannya. Ketika aku sampai di rumah Utsman, sungguh mengherankan, Utsman berkata kepadaku,
"Seseorang di antara kamu menghadapku dan bekas zinanya tampak di alis kedua matanya. Apakah kamu tidak mengerti bahwa zinanya kedua mata adalah memandang. Hendaklah kamu benar-benar bertaubat atau aku menghukummu."
Anas bin Malik bertanya, "Apakah ada wahyu setelah Nabi?"
Utsman (ra) menjawab, "Tidak ada, tetapi aku melihat dengan mata qolbuku, tanda bukti dan firasat yang benar."
Kisah #18 Siapa yang kau percaya?
Seorang tetangga mendatangi pagar rumah Mulla Nasrudin. Nasrudin menemuinya diluar.
"Apa engkau keberatan, Mulla," tetangganya bertanya, "maukah kau meminjamiku keledaimu hari ini? Aku punya barang2 yang perlu aku antar ke desa sebelah."
Nasrudin merasa keberatan meminjamkan keledainya pada orang itu, namun agar tidak nampak kasar, ia menjawab:
"Maaf, tapi aku sudah meminjamkan keledaiku pada orang lain."
Tiba2 keledainya di belakang rumah bersuara keras sekali.
"Tapi Mulla," tetangganya heran. "Aku bisa mendengar suaranya di balik tembok itu!"
"Siapa yang kau percaya," Nasrudin menjawab dengan marah, "keledai itu atau gurumu?"
https://en.wikipedia.org/wiki/Nasreddin
Kisah #17 Subhanallah yang menghijab diri
Ada seorang sufi yang menjadi salah satu wali di Bastam, Iran. Dia punya pengikut dan penggemar, namun dia juga tak pernah absen dari majelis Abu Yazid al-Bustami, seorang Guru Sufi Besar. Dia selalu menyimak ceramahnya, dan duduk bersanding sahabat2nya.
Suatu hari ia bertanya pada Abu Yazid, "Guru, selama 30 tahun aku berpuasa, malamnya aku shalat, sampai aku tak tidur sama sekali. Tapi, aku tak mendapat bekas sedikitpun tentang pengetahuan yang kau sampaikan hari ini. Padahal, aku yakin pada semua pengetahuan ini, dan aku senang pada ceramah Anda ini."
Abu Yazid menjawab, "Bila selama 300 tahunpun kau berpuasa siang hari dan shalat di malam hari, kau tak akan pernah menyadari sedikitpun tentang tema ini."
"Mengapa?" si murid bertanya.
"Karena kau dihijab (ditutupi) oleh dirimu sendiri," jawab Abu Yazid.
"Apa obat untuk hal ini?" si murid bertanya.
"Kau tak kan pernah menyanggupinya," Abu Yazid menjawab.
"Akan kulakukan," jawab murid. "Beritahukan padaku, sehingga aku bisa menjalani apa yang kau ajarkan."
"Baiklah," Abu Yazid menjawab. "Satu jam ini, pergilah dan cukur jenggot dan rambutmu. Lepaslah baju yang kau pakai saat ini, dan ikatkan pakaian bulu domba di pinggangmu. Bawalah tas yang berisi kacang lalu pergilah ke pasar. Kumpulkan semua anak2 yang kau temui dan beritahu mereka, 'Akan aku beri kacang pada siapa saja yang menempeleng aku.' Pergilah ke penjuru kota dengan penampilan yang sama, khususnya tempat dimana semua orang mengenalmu. Itulah obat untukmu."
Suatu hari ia bertanya pada Abu Yazid, "Guru, selama 30 tahun aku berpuasa, malamnya aku shalat, sampai aku tak tidur sama sekali. Tapi, aku tak mendapat bekas sedikitpun tentang pengetahuan yang kau sampaikan hari ini. Padahal, aku yakin pada semua pengetahuan ini, dan aku senang pada ceramah Anda ini."
Abu Yazid menjawab, "Bila selama 300 tahunpun kau berpuasa siang hari dan shalat di malam hari, kau tak akan pernah menyadari sedikitpun tentang tema ini."
"Mengapa?" si murid bertanya.
"Karena kau dihijab (ditutupi) oleh dirimu sendiri," jawab Abu Yazid.
"Apa obat untuk hal ini?" si murid bertanya.
"Kau tak kan pernah menyanggupinya," Abu Yazid menjawab.
"Akan kulakukan," jawab murid. "Beritahukan padaku, sehingga aku bisa menjalani apa yang kau ajarkan."
"Baiklah," Abu Yazid menjawab. "Satu jam ini, pergilah dan cukur jenggot dan rambutmu. Lepaslah baju yang kau pakai saat ini, dan ikatkan pakaian bulu domba di pinggangmu. Bawalah tas yang berisi kacang lalu pergilah ke pasar. Kumpulkan semua anak2 yang kau temui dan beritahu mereka, 'Akan aku beri kacang pada siapa saja yang menempeleng aku.' Pergilah ke penjuru kota dengan penampilan yang sama, khususnya tempat dimana semua orang mengenalmu. Itulah obat untukmu."
Kisah #16 Menyenangkan semua orang
Nasruddin Khodja yang sudah tua hendak pulang ke desa dengan anaknya. Anaknya menaiki keledai. Mereka bertemu dua wanita di tengah jalan yang menyindir
"Oh, malangnya! Anak itu menunggang dengan tenang padahal ayahnya yang lansia berjalan. Luar biasa!"
"Ayah," si anak bertanya, "bukankah panjenengan yang meminta saya menungganginya? Ayolah ayah, jangan keras kepala. Panjenengan saja yang menunggang keledai!"
Mereka meneruskan perjalanan, Nasruddin menunggang keledai dan anaknya berjalan hingga bertemu dua lelaki tua yang menyapa.
"Oh, malangnya! Anak itu menunggang dengan tenang padahal ayahnya yang lansia berjalan. Luar biasa!"
"Ayah," si anak bertanya, "bukankah panjenengan yang meminta saya menungganginya? Ayolah ayah, jangan keras kepala. Panjenengan saja yang menunggang keledai!"
Mereka meneruskan perjalanan, Nasruddin menunggang keledai dan anaknya berjalan hingga bertemu dua lelaki tua yang menyapa.
Kisah #15 Khutbah singkat
Suatu hari Mullah Nasruddin Khodja hendak ceramah di depan para muridnya di masjid.
"Wahai orang2 beriman, tahukah kalian apa yang akan aku sampaikan pada kalian?"
Para pendengar menjawab "Tidak", lalu Nasruddin merespon "Aku tidak ingin berceramah pada orang yang tidak tahu apa yang akan aku sampaikan". Lalu ia meninggalkan masjid.
Orang2 merasa malu dan mengundangnya kembali di hari yang lain. Pada hari itu, dia berdiri di depan orang2 dan menanyakan pertanyaan yang sama, dan kini semua orang menjawab,
"Kami sudah tahu."
Nasruddin membalas, "Bagus, karena kalian sudah tahu apa yang akan kusampaikan, aku tidak akan membuang waktu kalian" lalu ia meninggalkan masjid.
Semua orang sangat bingung. "Besok kalau beliau datang lagi, sebagian kita akan menjawab tahu dan sebagian menjawab tidak tahu."
Semua orang sudah mantap, dan hari itu tiba. Nasruddin berdiri di depan mereka dan menanyakan pertanyaan yang sama. Orang2 di sisi kiri menjawab, "Kami tahu," dan orang2 di sisi kanan menjawab, "Kami tidak tahu."
Nasruddin membalas, "Baguslah, sebagian kalian yang tahu apa yang akan kusampaikan, ceritakanlah kepada sebagian lainnya", lalu ia pergi lagi.
"Wahai orang2 beriman, tahukah kalian apa yang akan aku sampaikan pada kalian?"
Para pendengar menjawab "Tidak", lalu Nasruddin merespon "Aku tidak ingin berceramah pada orang yang tidak tahu apa yang akan aku sampaikan". Lalu ia meninggalkan masjid.
"Kami sudah tahu."
Nasruddin membalas, "Bagus, karena kalian sudah tahu apa yang akan kusampaikan, aku tidak akan membuang waktu kalian" lalu ia meninggalkan masjid.
Semua orang sangat bingung. "Besok kalau beliau datang lagi, sebagian kita akan menjawab tahu dan sebagian menjawab tidak tahu."
Semua orang sudah mantap, dan hari itu tiba. Nasruddin berdiri di depan mereka dan menanyakan pertanyaan yang sama. Orang2 di sisi kiri menjawab, "Kami tahu," dan orang2 di sisi kanan menjawab, "Kami tidak tahu."
Nasruddin membalas, "Baguslah, sebagian kalian yang tahu apa yang akan kusampaikan, ceritakanlah kepada sebagian lainnya", lalu ia pergi lagi.
Kisah #14 Api !
Hari Jum'at itu, Mullah Nasrudin menjadi imam Shalat Jum'at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur lelap. Maka berteriaklah sang Mullah,
"Api ! Api ! Api !"
Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,
"Dimana apinya, Mullah ?"
Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,
"Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah."
"Api ! Api ! Api !"
Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,
"Dimana apinya, Mullah ?"
Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,
"Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah."
Kisah #13 Adakah yang lebih sulit?
Salah seorang murid Nasrudin di sekolah bertanya, "Manakah keberhasilan yang paling besar: orang yang bisa menundukkan sebuah kerajaan, orang yang bisa tetapi tidak mau, atau orang yang mencegah orang lain melakukan hal itu ?"
"Nampaknya ada tugas yang lebih sulit daripada ketiganya," kata Nasruddin.
"Apa itu?"
"Mencoba mengajar engkau untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya."
"Nampaknya ada tugas yang lebih sulit daripada ketiganya," kata Nasruddin.
"Apa itu?"
"Mencoba mengajar engkau untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya."
Kisah #12 Siapa yang benar-benar benar
Mullah Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa penuntut. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
Petugas majelis membujuk Nasrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah! Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
"Aku rasa engkau benar."
Petugas majelis membujuk Nasrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah! Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:
"Aku rasa engkau benar."
Kisah #11 Usia Nasruddin
"Berapa umurmu, Nasrudin ?"
"Empat puluh tahun."
"Tapi beberapa tahun yang lalu, kau menyebut angka yang sama."
"Aku konsisten."
"Empat puluh tahun."
"Tapi beberapa tahun yang lalu, kau menyebut angka yang sama."
"Aku konsisten."
Kisah #10 Memilih kekayaan atau kebijaksanaan
Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja.
Hakim mencoba bertaktik, "Coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda diberi pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?"
Nasrudin menjawab seketika, "Tentu, saya memilih kekayaan."
Hakim membalas sinis, "Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?"
Nasrudin balik bertanya, "Kalau pilihan Anda sendiri?"
Hakim menjawab tegas, "Tentu, saya memilih kebijaksanaan."
Dan Nasrudin menutup, "Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya."
Hakim mencoba bertaktik, "Coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda diberi pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?"
Nasrudin menjawab seketika, "Tentu, saya memilih kekayaan."
Hakim membalas sinis, "Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?"
Nasrudin balik bertanya, "Kalau pilihan Anda sendiri?"
Hakim menjawab tegas, "Tentu, saya memilih kebijaksanaan."
Dan Nasrudin menutup, "Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya."
Kisah #9 Miskin dan sendiri
Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya.
Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nasrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah. "Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.
"Jangan khawatir," jawab Nasrudin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia." Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"
"Bukan begitu maksudku. Kau salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman."
Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nasrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah. "Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.
"Jangan khawatir," jawab Nasrudin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia." Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"
"Bukan begitu maksudku. Kau salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman."
Kisah #8 Dibagi sama rata
Seorang filosof menyampaikan pendapat, "Segala sesuatu harus dibagi sama rata."
"Aku tak yakin itu dapat dilaksanakan," kata seorang pendengar yang skeptik.
"Tapi pernahkah engkau mencobanya ?" balas sang filosof.
"Aku pernah," sahut Nasrudin, "Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa pun yang mereka inginkan."
"Bagus sekali," kata sang filosof, "Dan bagaimana hasilnya ?"
"Hasilnya ? Seekor keledai yang baik dan seorang istri yang buruk."
"Aku tak yakin itu dapat dilaksanakan," kata seorang pendengar yang skeptik.
"Tapi pernahkah engkau mencobanya ?" balas sang filosof.
"Aku pernah," sahut Nasrudin, "Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa pun yang mereka inginkan."
"Bagus sekali," kata sang filosof, "Dan bagaimana hasilnya ?"
"Hasilnya ? Seekor keledai yang baik dan seorang istri yang buruk."
Kisah #7 Keju baik dan buruk
Setelah bepergian jauh, Nasrudin Hoja tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut dengan gembira,
"Aku punya sepotong keju untukmu," kata istrinya.
"Alhamdulillah," puji Nasrudin, "Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut."
Tidak lama Nasrudin kembali pergi. Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.
"Adakah keju untukku ?" tanya Nasrudin.
"Tidak ada lagi," kata istrinya.
Kata Nasrudin, "Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi."
"Jadi mana yang benar ?" istri Nasrudin bertanya-tanya, "Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?"
"Itu tergantung," sambut Nasrudin, "Tergantung apakah kejunya ada atau tidak."
"Aku punya sepotong keju untukmu," kata istrinya.
"Alhamdulillah," puji Nasrudin, "Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut."
Tidak lama Nasrudin kembali pergi. Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.
"Adakah keju untukku ?" tanya Nasrudin.
"Tidak ada lagi," kata istrinya.
Kata Nasrudin, "Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi."
"Jadi mana yang benar ?" istri Nasrudin bertanya-tanya, "Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?"
"Itu tergantung," sambut Nasrudin, "Tergantung apakah kejunya ada atau tidak."
Minggu, 21 Mei 2017
Kisah #6 Mencuci baju di masa paceklik
Mullah Nasrudin sedang mengembara cukup jauh lalu ia sampai di sebuah kampung yang sangat kekurangan air. Menyambut Nasrudin, beberapa penduduk mengeluh, "Sudah enam bulan tidak turun hujan di tempat ini, ya Mullah. Tanaman-tanaman mati. Air persediaan kami tinggal beberapa kantong lagi. Tolonglah kami. Berdoalah meminta hujan."
Nasrudin mau menolong mereka. Tetapi ia minta dulu seember air. Maka datanglah setiap kepala keluarga membawa air terakhir yang mereka miliki. Total terkumpul hanya setengah ember air. Nasrudin melepas pakaiannya yang kotor, dan dengan air itu, Nasrudin mulai mencucinya. Penduduk kampung terkejut, "Mullah! Itu air terakhir kami, untuk minum anak-anak kami!"
Di tengah kegaduhan, dengan tenang Nasrudin mengangkat bajunya, dan menjemurnya. Pada saat itu, terdengar guntur dahsyat, yang disusul hujan lebat. Penduduk lupa akan marahnya, dan mereka berteriak gembira. "Bajuku hanya satu ini," kata Nasrudin di tengah hujan dan teriakan penduduk, "Bila aku menjemurnya, pasti hujan turun deras!"
Nasrudin mau menolong mereka. Tetapi ia minta dulu seember air. Maka datanglah setiap kepala keluarga membawa air terakhir yang mereka miliki. Total terkumpul hanya setengah ember air. Nasrudin melepas pakaiannya yang kotor, dan dengan air itu, Nasrudin mulai mencucinya. Penduduk kampung terkejut, "Mullah! Itu air terakhir kami, untuk minum anak-anak kami!"
Di tengah kegaduhan, dengan tenang Nasrudin mengangkat bajunya, dan menjemurnya. Pada saat itu, terdengar guntur dahsyat, yang disusul hujan lebat. Penduduk lupa akan marahnya, dan mereka berteriak gembira. "Bajuku hanya satu ini," kata Nasrudin di tengah hujan dan teriakan penduduk, "Bila aku menjemurnya, pasti hujan turun deras!"
Kisah #5 Jubah hitam
Mullah Nasrudin berjalan di jalan raya dengan mengenakan jubah hitam tanda duka, ketika seseorang bertanya, "Mengapa engkau berpakaian seperti ini, Nasrudin? Apa ada yang meninggal."
"Yah," kata sang Mullah, "Bisa saja terjadi tanpa kita diberi tahu."
"Yah," kata sang Mullah, "Bisa saja terjadi tanpa kita diberi tahu."
Kisah #4 Mullah Nasruddin melompat ke kolam
Nasrudin hampir terjatuh ke kolam. Tapi ada orang yang tidak terlalu dikenal berada di dekatnya, dan kemudian menolongnya pada saat yang tepat. Namun setelah itu, setiap kali bertemu Nasrudin orang itu selalu membicarakan peristiwa itu, dan membuat Nasrudin merasa perlu berterima kasih berulang-ulang.
Suatu hari, untuk yang kesekian kalinya, orang itu menyinggung peristiwa itu lagi. Nasrudin mengajaknya ke lokasi, dan kali ini Nasrudin langsung melompat ke air. "Kau lihat! Sekarang aku sudah benar-benar basah seperti yang seharusnya terjadi kalau engkau dulu tidak menolongku. Sudah, pergi sana!"
Suatu hari, untuk yang kesekian kalinya, orang itu menyinggung peristiwa itu lagi. Nasrudin mengajaknya ke lokasi, dan kali ini Nasrudin langsung melompat ke air. "Kau lihat! Sekarang aku sudah benar-benar basah seperti yang seharusnya terjadi kalau engkau dulu tidak menolongku. Sudah, pergi sana!"
Kisah #3 Minuman untuk baju
Nasrudin menghadiri sebuah pesta pernikahan. Dilihatnya seorang sahabatnya sedang asyik makan. Namun, selain makan sebanyak-banyaknya, ia sibuk pula mengisi kantong bajunya dengan makanan.
Melihat kerakusan sahabatnya, Nasrudin mengambil teko berisi air. Diam-diam, diisinya kantong baju sahabatnya dengan air. Tentu saja sahabatnya itu terkejut, dan berteriak, "Hai Nasrudin, gilakah kau ? Masa kantongku kau tuangi air!"
"Maaf, aku tidak bermaksud buruk, sahabat," jawab Nasrudin, "Karena tadi kulihat betapa banyak makanan ditelan oleh kantongmu, maka aku khawatir dia akan haus. Karena itu kuberi minum secukupnya."
Melihat kerakusan sahabatnya, Nasrudin mengambil teko berisi air. Diam-diam, diisinya kantong baju sahabatnya dengan air. Tentu saja sahabatnya itu terkejut, dan berteriak, "Hai Nasrudin, gilakah kau ? Masa kantongku kau tuangi air!"
"Maaf, aku tidak bermaksud buruk, sahabat," jawab Nasrudin, "Karena tadi kulihat betapa banyak makanan ditelan oleh kantongmu, maka aku khawatir dia akan haus. Karena itu kuberi minum secukupnya."
Sabtu, 20 Mei 2017
Kisah #2 Makanan untuk baju
Nasrudin Hoja menghadiri sebuah pesta. Tetapi karena hanya memakai pakaian yang tua dan jelek, tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Dengan kecewa Nasrudin pulang kembali.
Namun tak lama, Nasrudin kembali dengan memakai pakaian yang baru dan indah. Kali ini Tuan Rumah menyambutnya dengan ramah. Ia diberi tempat duduk dan memperoleh hidangan seperti tamu-tamu lainnya.
Tetapi Nasrudin segera melepaskan baju itu di atas hidangan dan berseru, "Hei baju baru, makanlah! Makanlah sepuas-puasmu!"
Ketika ada yang heran dan bertanya, ia memberikan alasan "Ketika aku datang dengan baju yang tadi, tidak ada seorang pun yang memberi aku makan. Tapi waktu aku kembali dengan baju yang ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan makanan yang enak. Tentu saja ini hak bajuku. Bukan untukku."
Namun tak lama, Nasrudin kembali dengan memakai pakaian yang baru dan indah. Kali ini Tuan Rumah menyambutnya dengan ramah. Ia diberi tempat duduk dan memperoleh hidangan seperti tamu-tamu lainnya.
Tetapi Nasrudin segera melepaskan baju itu di atas hidangan dan berseru, "Hei baju baru, makanlah! Makanlah sepuas-puasmu!"
Ketika ada yang heran dan bertanya, ia memberikan alasan "Ketika aku datang dengan baju yang tadi, tidak ada seorang pun yang memberi aku makan. Tapi waktu aku kembali dengan baju yang ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan makanan yang enak. Tentu saja ini hak bajuku. Bukan untukku."
Kisah #1 Arti Nasib Menurut Nasruddin
Suatu ketika, Mulla Nasruddin ditanya:
"Apa artinya nasib, Mulla ?"
"Asumsi-asumsi.", jawabnya.
"Bagaimana ?"
"Begini. Engkau menganggap bahwa segalanya akan berjalan baik, tetapi kenyataannya tidak begitu. Nah itu yang disebut nasib buruk. Atau, engkau punya asumsi bahwa hal-hal tertentu akan menjadi buruk, tetapi nyatanya tidak terjadi. Itu nasib baik namanya. Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi, kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi, dan akhirnya berasumsi bahwa masa depan tidak dapat ditebak. Ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu nasib."
"Apa artinya nasib, Mulla ?"
"Asumsi-asumsi.", jawabnya.
"Bagaimana ?"
"Begini. Engkau menganggap bahwa segalanya akan berjalan baik, tetapi kenyataannya tidak begitu. Nah itu yang disebut nasib buruk. Atau, engkau punya asumsi bahwa hal-hal tertentu akan menjadi buruk, tetapi nyatanya tidak terjadi. Itu nasib baik namanya. Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi, kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi, dan akhirnya berasumsi bahwa masa depan tidak dapat ditebak. Ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu nasib."
Langganan:
Komentar (Atom)
