Selasa, 23 Mei 2017

Kisah #17 Subhanallah yang menghijab diri

Ada seorang sufi yang menjadi salah satu wali di Bastam, Iran. Dia punya pengikut dan penggemar, namun dia juga tak pernah absen dari majelis Abu Yazid al-Bustami, seorang Guru Sufi Besar. Dia selalu menyimak ceramahnya, dan duduk bersanding sahabat2nya.

Suatu hari ia bertanya pada Abu Yazid, "Guru, selama 30 tahun aku berpuasa, malamnya aku shalat, sampai aku tak tidur sama sekali. Tapi, aku tak mendapat bekas sedikitpun tentang pengetahuan yang kau sampaikan hari ini. Padahal, aku yakin pada semua pengetahuan ini, dan aku senang pada ceramah Anda ini."

Abu Yazid menjawab, "Bila selama 300 tahunpun kau berpuasa siang hari dan shalat di malam hari, kau tak akan pernah menyadari sedikitpun tentang tema ini."

"Mengapa?" si murid bertanya.

"Karena kau dihijab (ditutupi) oleh dirimu sendiri," jawab Abu Yazid.

"Apa obat untuk hal ini?" si murid bertanya.

"Kau tak kan pernah menyanggupinya," Abu Yazid menjawab.

"Akan kulakukan," jawab murid. "Beritahukan padaku, sehingga aku bisa menjalani apa yang kau ajarkan."

"Baiklah," Abu Yazid menjawab. "Satu jam ini, pergilah dan cukur jenggot dan rambutmu. Lepaslah baju yang kau pakai saat ini, dan ikatkan pakaian bulu domba di pinggangmu. Bawalah tas yang berisi kacang lalu pergilah ke pasar. Kumpulkan semua anak2 yang kau temui dan beritahu mereka, 'Akan aku beri kacang pada siapa saja yang menempeleng aku.' Pergilah ke penjuru kota dengan penampilan yang sama, khususnya tempat dimana semua orang mengenalmu. Itulah obat untukmu."

"Subhanallah! Laa ilaha illallah," murid menangis ketika mendengar jawaban itu.

"Bila seorang kafir mengucapkan kalimat itu, dia menjadi beriman," jawab Abu Yazid. "Dengan mengucap kalimat yang sama, engkau menjadi musyrik (mempersekutukan Allah)."

"Bagaimana bisa?" murid heran.

"Karena kau menganggap dirimu terlalu mulia untuk melakukan apa yang kusampaikan," jawab Abu Yazid. "Jadi kau menjadi musyrik. Kau gunakan kalimat itu untuk mengungkapkan pentingnya dirimu, bukan untuk mengagungkan Tuhan."

"Itu tak bisa kulakukan," murid keberatan. "Mohon beri aku obat yang lain."

"Obatnya adalah apa yang barusaja kusampaikan," Abu Yazid menegaskan.

"Aku tak dapat melakukannya," murid mengulang.

"Bukankah sudah kubilang kau tak kan melakukannya, kau tak pernah mematuhiku" jawab Abu Yazid.

~ From the "Memorial of the Saints" of Fariduddin Attar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar